Tatjana merasa kesepian. Lahir di Kroasia, ia pernah tinggal di berbagai penjuru Eropa sebelum akhirnya menetap di Amsterdam. Lima belas tahun kemudian, putranya yang beranjak remaja enggan membawa teman-temannya ke rumah karena malu dengan aksen Slavia ibunya yang kental serta sikapnya yang jauh dari pembawaan tenang khas orang Belanda. Namun, masalah yang sesungguhnya jauh lebih besar: Tatjana merasa asing di mana pun ia berada. Bertekad untuk menemukan rasa memiliki, ia mulai mendatangi kerabat dan teman-temannya di seluruh Eropa untuk mencari tahu bagaimana mereka berhasil melakukannya. Setelah melewati berbagai benturan budaya dan prasangka sehari-hari, ia akhirnya berhadapan dengan sebuah pola kelam dalam sejarah keluarganya sendiri.





